terbaru

Sebab Saya Gagal sebagai Blogger

: Minggu, Mei 07, 2017

Sebab Saya Gagal sebagai Blogger



Siapa yang ingin gagal sebagai Blogger? Tidak ada bukan? Kecuali dari awal tujuan seseorang blogging, memang hanya sekedar iseng alias hanya untuk main-main.

Jadi apa yang menyebabkan saya gagal sebagai Blogger?

Pengertian gagal sebagai blogger yang saya maksud disini adalah, gagal menjadi kaya melalui blog. Setidaknya saat ini. Kalau dulu saya sudah kaya sebagai Blogger, yiaitu di tahun 2012-2013. Kaya sesuai tingkat kemelaratan saya. Dapat uang 3 sampai 4 juta perbulan dari blog, itu sudah mewah untuk manusia gembel intelek seperti saya. Tapi sekarang?

Saya gagal sebagai Blogger bukan karena saya tolol. Tapi karena semangat blogging saya belum konsisten. Setahun pertama blog ini saya bangun, semangat saya seperti roket. Begitu mulai, langsung terbang. Bahkan hanya dalam waktu 50 hari, ranking Alexa blog ini langsung bertengger di tangga 400 ribu. Dan beberapa tulisan, sudah merajalela di rangking 1 SERP Google.

Tapi di tahun kedua blog ini, sejak 2017, semangat saya mulai padam. Meskipun dalam hati, saya tetap menyadari, bahwa blogging adalah dunia online yang paling saya gandrungi. Karena saya memang hobi menulis dan desain web. Jika saya masih update, itu tidak lagi atas nama panggilan hati. Tapi karena saya sadar, tanpa update, pertumbuhan blog ini tidak akan berlanjut. Maka atas dasar itu, saya memaksakan diri untuk menulis beberapa postingan. Itu sebabnya, sejak 2017, jumlah postingan saya sangat sedikit. Bahkan yang paling parah, pada bulan Maret, saya hanya menulis 1 postingan.

Lalu apa yang menyebabkan saya malas menulis di blog ini sejak 2017?
Sebenarnya bukan karena sara orang yang pemalas. Saya orangnya sangat rajin. Bahkan saya seorang warkaholic. Gila kerja. Hari-hari saya siang sampai malam, nyaris selalu bekerja. Nyaris tidak pernah saya hanya duduk atau nongkrong tanpa melakukan apa-apa. Bahkan di WC pun, saya juga melakukan sesuatu, misalnya membaca sambil jongkok. Minimal mendengar video tutorial atau dialog dengan headset HP. Jika saya sudah tidak gila kerja, maka itu artinya saya sedang sakit, seperti yang terjadi di tahun 2017 hingga 2010. Saya sakit jiwa. Dosis rendah.

Jadi sebabnya adalah,
Kegilaan menulis saya saat itu mengalir total ke Facebook.
Baik di grup saya, maupun di halaman beranda.

Lalu kenapa saat itu justru di Facebook saya rajin menulis?
Nah itulah akibat keracunan SEO.

Di Facebook, menulis sebuah aforisma yang isinya hanya 3 potong kalimat, tidak masalah. Atau satu alinea singkat, tetap aman. Tidak ada resiko. Karena status saya di Facebook, hanya sebagai tamu diantara berjubel Facebooker lainnya. Yang penting bagi Facebook, perut webnya setiap waktu bisa gendut diisi oleh tulisan para penghuninya. Kelenturan seperti itu, membuat para penghuninya menjadi manja dan terbuai. Terbuai untuk sepanjang waktu di Facebook. Bangun tidur langsung buka Facebook, sampai menjelang tidur. Bahkan sebagian malah juga tidur di Facebook. Termasuk saya.

Sementara jika itu saya lakukan disini, citra blog ini dimata robot Google, bisa ambruk. Karena ada batasan jumlah karakter minimal yang mesti dipenuhi setiap menulis postingan agar lulus dari salah satu indikator SEO. Bahkan sampai stadium tertentu, bisa dicap sebagai spamming, yang ujung-ujungnya bisa kena pinalti dan berbagai resiko lainnya. Akibatnya, jika belum mood untuk menulis konten serius, sesuai niche blog ini, lengkap dengan segala script dan gambar pendukungnya, maka saya menjadi enggan untuk update. Sementara di Facebook, jika punya waktu online 5 menit disela-sela kesibukan, bisa langsung tancap menulis post-post pendek dan saling komen. Artinya Facebook, bisa menampung gairah online saya meski waktu yang tersedia, hnaya sebentar. Tapi diluar dugaan saya, malah saya online di Facebook, bukan hanya untuk mengisi waktu luang sesaat, melainkan, jadi kecanduan, justru nyaris total waktu online saya, diringkus abis oleh Facebook.

Jadi kesimpulan tergesa-gesanya adalah
Biang kerok pemicu awal blog ini menjadi terbengkalai adalah gara-gara Facebook. Tapi kalau saya pikir lagi dengan fair, Facebook sebenarnya juga tidak berdosa. Tapi sayalah yang tolol. Kenapa saya mau tergoda. Mereka kan tidak memaksa. Bahkan Mark Zuckerberg sendiri sebagai pemiliknya, juga tidak pernah mengundang saya secara resmi agar hanya sibuk menulis di Facebook lalu melupakan blog ini. Saya saja yang rela mengumpakan diri terbius oleh kemudahan berbagai sistemnya.

Lalu apa yang bisa anda petik dari semua ini?
Jika anda ingin membangun blog dengan sungguh-sungguh, apalagi jika ingin menjadikan blog sebagai ladang penghasilan, jangan terjebak seperti saya. Jangan ikut-ikutan tolol seperti saya. Kecuali jika anda sudah ikhlas menjadi seorang Blogger yang gagal alias sudah rela membiarkan blog anda menjadi mati suri.

Komentar yang tidak relevan, jorok, spamming dan promosi link akan dihapus

Copyrights @ blogernas ■ Desember 2015 - Erianto Anas | Powered by Blogger